Sebenarnya, setiap manusia mempunyai hati nurani untuk menilai sesuatu yang dihadapinya. Karena setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Artinya manusia mempunyai tendensi untuk memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk. Namun, lingkungan tempat dimana seseorang itu tumbuh dan berkembang, akan memberi sentuhan yang sangat berarti untuk membentuk karakter pribadinya. Dalam hadits Rasulullah yang terkenal tentang arti sebuah lingkungan –kalau boleh saya kaitkan–, Rasulullah menggambarkan orang yang berteman dengan penjual minyak wangi akan “tertular” aroma wanginya. Sementara orang yang berteman dengan pande besi, maka ia akan terkena percikan api, kepanasan, gosong, dsb. Maka dari itu, hati nurani yang sebenarnya adalah controller tingkah laku kita harus dijaga dengan sepenuh hati.
Saya merupakan orang yang melawan adanya “rokokisasi”, baik dalam hal jual beli rokok, merokok itu sendiri, ataupun sponsorship. Hal ini sudah saya pahami sejak kecil dimana dalam lingkungan keluarga, kami berusaha untuk meniadakan unsur-unsur rokok. Ketika ada sebuah pertemuan dengan masyarakat yang bertempat di rumah kami, kami tidak menyediakan menu rokok bagi mereka. Keluarga saya biasanya menggantinya dengan menyuguhkan makanan dan minuman yang insya Allah lezat. Dan alhamdulillah, langkah-langkah seperti itu menjadi sebuah identitas bagi keluarga saya untuk tidak membantu menjalarnya paham rokokisasi.
Saya seringkali mencoba mengorek-orek isi hati dari teman-teman saya yang menjadi “aktivis rokok”. Ada juga dari mereka yang sampai menjadikan rokok sebagai menu kedua yang wajib setelah nasi. Ada perasaan yang kurang nyaman ketika mereka tidak menyuapi mulut mereka dengan asap tembakau. Sungguh, sangat ironi dengan akibat buruk yang bisa mereka gapai jika terus-terusan melakukan hal itu.Saya juga seringkali menanyai tentang keinginan mereka untuk mengubur batang-batang rokok dari hidupnya. Sungguh, saya tertegun dengan tekad yang merajai dirinya saat itu. Sebagian besar teman saya tersebut berkeinginan kuat untuk stop smoking bahkan ada yang membuat goresan di tangannya untuk membulatkan tekad bahwa ia akan berhenti merokok. Namun, sekali lagi, lingkungan mempunyai andil yang cukup signifikan dalam menjaga motivasi diri. Seandainya teman saya tersebut berada dalam lingkungan yang mengatakan : “No to smoke”, maka insya Allah keinginan itu akan terjaga dan tidak mudah teredam oleh rayuan rokok.
Kenyataan seperti ini dapat kita jumpai dimana saja kita berada meski dampak buruk dari rokok tidak pernah untuk berhenti tersiar ke telinga kita. Penelitian-penelitian pun semakin menguatkan kita untuk membuang jauh-jauh batang-batang rokok. Terus apalagi yang harus menghalangi untuk membuang rokok dari hidup kita???
Salah satu fakta yang sangat merisaukan adalah tentang hukum merokok yang dilontarkan oleh sebagian “kyai” bahwa merokok itu bukanlah hal yang haram, namun hanay sebatas makruh saja. Hal ini, oleh para perokok dijadikan sandaran untuk legalisasi aktivitas merokok mereka. Memang pada masa Rasulullah belum ada yang melarang merokok karena pada masa itu belum ada rokok.
Fatwa ulama internasional di Tiongkok beberapa waktu yang lalu menegaskan bahwa rokok itu haram bukan lagi pada level makruh.